Kamis, 02 Desember 2010

KISI-KISI ULANGAN SEMESTER GANJIL TAHUN PELAJARAN 2010/2011

Tak terasa ulangan semester semakin dekat. Sesuai jadwal, Ulangan Semester Ganjil akan dimulai tanggal 11 Desember 2010. Bagi bapak/Ibu guru yang menghendaki kisi-kisi soal ulangan semester bisa download di sini

Sabtu, 30 Oktober 2010

Sanggar 7 IPA Efektifkan On Servis


Sanggar 7 MGMP IPA SMP Kabupaten Wonogiri yang meliputi SMP di wilayah Kecamatan Giritontro, Paranggupito, dan Giriwoyo berkedudukan di sekolah inti SMPN 1 Giritontro.
Di tahun kedua ini Sanggar 7 IPA bertekad melaksanakan Kegiatan On Servis BERMUTU selama 16 pertemuan secara lebih efektif. Efektifitas tersebut nantinya akan dinilai dari prosentase kehadiran peserta yang stabil atau meningkat, efektifitas pembelajaran, serta terkumpulnya tagihan-tagihan Program BERMUTU.
Foto-foto tersebut adalah gambar ketika Pertemuan kedua (Membuat bahan ajar berbsis ICT) dan gambar pertemuan ketiga (Model-model Pembelajaran) di mana Guru Pemandu, Agus Dwianto SPd, menerapkan Cooperative Learning Type JIGSAW dalam menyanpaikan materi pertemuan tersebut.
Tak kalah pentingnya, diharapkan Program BERMUTU berdampak baik pada pembelajaran di kelas masing-masing Guru Peserta.
(Ag)

MGMP IPA Wonogiri adakan In Servis


Sanggar MGMP IPA Wonogiri Tahun kedua menyelenggarakan Kegiatan In Servis Program BERMUTU pada Sabtu 25 September 2010 lalu. Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Wonogiri, Drs. H. Suparno, M.Pd.
Pada kegiatan yang berlangsung satu hari ini disajikan berbagai materi, yaitu : Sosialisasi Program BERMUTU Tahun kedua dan TNA oleh Drs. M. Irianto Mewal M.Pd, serta Jurnal Belajar yang disampaikan oleh Slamet Riyadi S.Pd.
Kegiatan ini ditindaklanjuti dengan kegiatan on servis selama 16 pertemuan di tiap sanggar.
(Ag)

Rabu, 01 September 2010

PENGERTIAN, KEGUNAAN, DAN BENTUK JURNAL BELAJAR

Program BERMUTU diarahkan kepada peningkatan hasil belajar peserta didik. Untuk mencapai peningkatan hasil belajar peserta didik, guru diminta menerapkan pembelajaran PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan). Salah satu yang belum banyak disinggung adalah pemanfaatan Jurnal Belajar (dokumen yang secara terus-menerus bertambah dan berkembang, sebagai rekaman terhadap perkembangan materi yang sedang dipelajari). Bahan Belajar Mandiri (BBM) yang disiapkan bagi guru di KKG dan MGMP belum ada tentang jurnal belajar. Pada hal jurnal belajar sangat bermanfaat untuk meningkatkan kebiasaan peserta didik dalam menulis. Selain itu, jurnal belajar bermanfaat untukmerefleksikan hasil belajar, menyusun suatu alur pikir secara tertulis, yang bagi guru dapat menjadi acuan dalam menilai berhasil tidaknya peserta didik mempelajari materi yang disampaikan.

Jurnal belajar diprediksi memberikan kontribusi positif dalam pengembangan disiplin akademik di bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Pentingnya jurnal belajar sudah disadari oleh perguruan tinggi. Hanya saja, masalah-masalah klasik yang dihadapi seperti pendanaan, pengelolaan (manajemen penerbitan) serta sustainibilitasnya. Pengelolaan atau penggunaan jurnal belajar peserta didik pada pendidikan dasar menghadapi problematika tersendiri. Akan tetapi, jika diberdayakan dan dimanfaatkan dengan baik niscaya akan memberikan hasil yang luar biasa terutama dalam pembiasaan menulis secara efektif. Guru-guru di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama harus berpengalaman dalam menggunakan jurnal belajar sebagai sarana dalam membelajarkan peserta didik.

Jurnal belajar menjadi penting dalam sudut pandang seperti tersebut di atas, maka semboyan ilmuwan-ilmuwan Amerika “Publish or Perish” (menulis atau lenyap) diharapkan dapat dijadikan pemicu agar para pendidik di negeri tercinta ini memiliki kesadaran untuk menulis. Penggunaan jurnal belajar diharapkan tidak bisa lepas dari membangun budaya, kebiasaan-kebiasaan menulis untuk mengisi secara terus-menerus khazanah keilmuan dalam bidang pembelajaran. Ironisnya kebiasaan membaca untuk memperkaya khazanah keilmuan pembelajaran (pendidikan) masih rendah di kalangan pendidik dan tenaga kependidikan kita. Tidak jarang guru di sekolah kita yang hanya mengajar dari ilmu yang didapat semasa kuliah (yang biasanya sudah kadaluarsa). Jika ditanya, mengapa tidak membaca sumber-sumber yang lebih up to date (terkini, mutakhir), guru tersebut menjawab tidak ada dana untuk membeli buku sumber atau bahasa Inggris tidak dikuasai atau berbagai alasan lain. Pada hal guru sebagai agen pembaharuan, dituntut untuk membaca artikel-artikel keilmuan bermutu , terampil mengakses sumber informasi lewat internet secara berkesinambungan serta mengkaji atau mengujinya untuk menjawab permasalahan-permasalahan pembelajaran di sekolah. Lewat artikel-artikel pada Jurnal belajar yang akan diterbitkan ini sebagian permasalahan yang dihadapi guru tersebut dapat diatasi.

Bagi pendidik dan tenaga kependidikan, yang telah memiliki kecintaan dan kebiasaan menulis atau membaca, mereka tidak mungkin akan terus menerus dapat menulis tanpa membaca dan tanpa didukung dengan sarana-prasarana atau wadah yang tepat. Paling tidak, kepala sekolah dan pengawas sekolah menghargai karya tulis ilmiah, artikel atau buku yang mereka dihasilkan. Kebiasaan membaca, kecintaan menulis artikel adalah bagian dari pengembangan profesionalitas dan pengembangan intelektualitas yang sangat perlu ditumbuhkan dalam diri pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah kita. Membaca dan menulis bagi pendidik dan tenaga kependidikan dapat diilustrasikan sebagai aktivitas harian seperti halnya bernafas.

Jurnal belajar adalah wadah yang memuat hasil refleksi dalam bidang pembelajaran yang diperuntukan bagi peserta didik. Guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah dapat membacanya sebagai bahan masukan untuk melihat kemampuan peserta didik dalam bidang yang dipelajarinya. Peserta didik mengisinya dengan hasil bacaan, hasil diskusi, refleksi terhadap temuan dalam pembelajaran, hasil pengamatan, hasil abstraksi atau apa saja yang berkaitan dengan pembelajaran di sekolah. Bila perlu bukan hanya peserta didik yang mempunyai karya yang berkualitas dapat mengisinya. Akan tetapi kesempatan diberikan kepada semua peserta didik, walaupun menurut guru apa yang dituliskan peserta didik itu pada awalnya hanya cerita yang kelihatannya kurang bermakna bagi guru. Jurnal belajar tidak hanya berorientasi pada pengembangan kemampuan akademis semata akan tetapi diharapkan melalui kebiasaan menuliskan pengalaman belajar, peserta didik tersebut terbiasa mengekspresikan perasaan, pemikiran ataupun harapannya tentang pembelajaran yang diberikan guru. Jadi lebih dekat sebagai alat untuk komunikasi dan diseminasi informasi, temuan, pemikiran, hasil pengamatan tentang pembelajaran. Setiap peserta didik dapat mengisi jurnal belajar, meskipun belum mampu menulis dengan kriteria ilmiah. Isi dari Jurnal belajar tidak harus dalam bentuk artikel hasil penelitian, hasil telaahan yang memenuhi kriteria ilmiah. Akan tetapi dapat berupa kalimat-kalimat sederhana, entah itu penyelesaian soal mata pelajaran tertentu atau bahkan hanya ungkapan bahwa peserta didik itu senang belajar hari itu karena guru memberi kesempatan ke luar kelas untuk mengamati tanaman di sekitar sekolah pada pelajaran IPA.

Untuk menggunakan Jurnal Belajar dibutuhkan keberanian. Untuk memulai dan mendorong guru diperlukan inisiatif kepala sekolah atau dan pengawas sekolah. Kebersamaan di antara pendidik dan tenaga kependidikan yang menjadi anggota kelompok kerja masing-masing merupakan modal utama dan kunci untuk menerbitkan jurnal belajar. Pendekatan-pendekatan personal kepada anggota kelompok kerja diperkirakan akan mampu membangkitkan semangat untuk menerbitkan jurnal belajar. Kebersamaan dalam memecahkan masalah, diskusi dari hati ke hati, mengajak anggota kelompok kerja untuk merancang, membuat nama jurnal dan memilih pengelola dan menulis isi jurnal.

Kebiasaan menulis artikel di media masa atau menulis di jurnal ilmiah, menyusun karya tulis ilmiah oleh guru dan lain sebagainya dapat ditumbuhkembangkan melalui pembiasan peserta didik untuk mengisi jurnal belajar. Diperkirakan jurnal tersebut memberi sumbangan yang besar dan positif untuk membangun tradisi berpikir ilmiah dan menuliskannya dalam bentuk artikel di jurnal. Kehadiran jurnal belajar di pendidikan dasar diharapkan dapat memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan disiplin akademik para peserta didiknya. Oleh sebab itu pendidik dan tenaga kependidikan dalam kegiatan kelompok kerja KKG, MGMP, KKKS dan MKKS seyogianya mempelajari manfaat jurnal belajar dan memanfaatkan seoptimal mungkin. Kebiasaan menulis junal belajar sangat bermanfaat bagi peserta didik kelak di perguruan tinggi dalam menulis pada jurnal ilmiah sebagai wadah komunikasi hasil penelitian dan telaah ilmiah.

Jurnal belajar diharapkan menjadi wadah dalam pengembangan kualitas pendidikan, khususnya di bidang pembelajaran. Pendidik dan tenaga kependididkan diharapkan berpartisipasi untuk mengisi dan memperbarui materi keilmuan yang diajarkan dan cara-cara mengajarkannya. Bahkan guru pemula dapat menjadikan jurnal tersebut sebagai rujukan pemutakhiran metode pembelajaran dan materi yang diajarkan. Peserta didik yang berada di kota besar, sekarang ini sudah dengan mudah dapat mengakses pengetahuan melalui internet, yang kemungkinan membuat pendidik dan tenaga kependidikan semakin tertinggal, apabila gurunya hanya mengandalkan sumber belajar yang konvensional. Selain itu, meningkatkan minat baca dan menulis bukan hanya kewajiban bagi peserta didik, akan tetapi merupakan kewajiban bagi pendidik dan tenaga kependidikan. Proses pembelajaran di sekolah tidak akan dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kalau guru-gurunya tidak terbiasa membaca. Pendidik dan tenaga kependidikan tidak mungkin dapat menulis karya tulis ilmiah atau artikel populer yang baik tanpa banyak membaca. Menulis dan membaca adalah pintu gerbang utama mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Tawaran menulis jurnal belajar sering menjadi beban bagi sebagian besar peserta didik. Belum dapat dijelaskan apakah hal ini terjadi karena banyaknya tenaga pengajar yang kurang mampu memotivasi peserta didik dan kurang memahami makna jurnal belajar atau kemungkinan sang guru sendiri belum pernah mengisi jurnal belajar. Meskipun gurunya sudah berkualifikasi S1 bahkan yang sudah S2 tidak ada jaminan bahwa mereka sudah terbiasa memanfaatkan jurnal belajar, tetapi kalau hal tersebut merupakan alasan, pada hal seharusnya pendidik membiasakan diri untuk memanfaatkan jurnal belajar. Pada umumnya guru masih belum tahu makna jurnal belajar dan tidak terbiasa memanfaatkan sebagai sarana pembelajaran yang efektif. Sebagian guru mengalami kesulitan membuat karya tulis ilmiah diperkirakan karena sejak dulu belum pernah mengisi jurnal belajar.
Jurnal belajar, sebagai istilah yang diterjemahkan dari learning journal yakni merupakan dokumen yang secara terus-menerus bertambah dan berkembang. Biasanya ditulis oleh pembelajar, sebagai rekaman terhadap perkembangan materi yang sedang dipelajari. Sebenarnya, bisa saja terdapat beberapa jurnal sesuai dengan mata pelajaran yang diikuti atau bahkan ada jurnal yang berkaitan dengan pekerjaan sehari-hari. Sekarang ini yang banyak berkembang adalah jurnal belajar secara online, di mana peserta dididk dapat melakukan dialog (seperti dalam bentuk forum), bahkan peserta dididik dari sekolah lain pun boleh ikut bergabung.
Jurnal belajar bukan:
 Ringkasan materi pembelajaran, tetapi lebih fokus pada refleksi peserta didik terhadap apa yang telah dibaca atau yang sedang dipelajari
 Katalog belajar, karena dalam katalog belajar biasanya ditulis waktu dan tanggal mengajar atau dipelajari. Suatu katalog merupakan rekaman peristiwa, akan tetapi jurnal belajar merupakan rekaman refleksi dan hasil pengamatan dan pemikiran peserta didik.
Apa Keuntungan dari Jurnal belajar?
Siapa yang paling diuntungkan kalau Jurnal belajar diterbitkan? Tentu peserta didik. Kenyataan menunjukkan, bahwa jika peserta didik memelihara rekaman tentang apa yang diajarkan dan bagaimana materi itu diajarkan, ini merupakan penunjang untuk tetap mengingatnya di dalam kepala, ada pepatah orang tua yang mengatakan ”sebenarnya peserta didik belum tahu apa-apa sampai peserta didik tersebut dapat menuliskannya” dan beberapa hasil penelitian telah membukti bahwa ungkapan tersebut benar. Mengatakan apa yang telah diajarkan, peserta didik dapat menelusuri apa saja kemajuan yang telah didapatkan atau dilakukan. Ini juga berarti peserta didik mulai mencatat perbedaan di antara pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki tentang mengajar.
Siapa Penulis Jurnal belajar?
Seratus tahun yang lalu, pendidikan jarak jauh belum ada dan buku teks masih sangat mahal harganya. Ketika itu, mahapeserta didik harus menuliskan apa yang telah dipelajari pada buku catatan. Isi catatan kuliah tersebut adalah ringkasan dari materi yang telah dipelajari. Yang menjadi fokus peserta adalah mereka harus menulis dan memutuskan sendiri apa yang akan ditulis. Pada saat ini tidak dibutuhkan catatan kuliah karena materi kuliah dapat diakses secara online, karena bahan kuliah, yang lebih lengkap dari catatan itu sudah ada di website. Harga buku teks pun sudah relatif murah dan karena kuliah dilaksanakan secara online berarti peserta didiknya harus mampu mengupload bahannya ke internet (web). Jadi dalam arti seperti pengganti catatan kuliah, peserta didik hendaknya menggunakan Jurnal belajar. Penekanannya memang berbeda tetapi tujuannya sama, yaitu membantu memaknai apa yang telah dipelajari peserta didik pada saat peserta didik mengajar.
Isi Jurnal belajar dapat meliputi:
 Butir-butir yang ditemukan, khususnya materi yang menarik dari yang dibaca peserta didik dan tertarik untuk ditindaklanjuti lebih detail;
 Pertanyaan yang muncul di benak peserta didik yang berkaitan dengan materi yang dibaca pada topik tertentu (bahan ajar);
 Setelah pembelajaran di kelas berlangsung (segera setelahnya, jika memungkinkan) adalah merupakan waktu yang paling tepat untuk membuat catatan untuk me-reinforce (mendorong dengan sekuat tenaga) hasil belajar peserta didik dengan mencoba mengingat apa inti yang telah diajarkan. Berpikir apa yang menjadi poin utama yang baru bagi peserta didik dari materi yang diajarkan hari ini. Peserta didik diminta oleh kepala sekolah atau pengawas sekolah untuk menuliskan hal tersebut tanpa melihat RPP, kemudian membandingkan dengan RPP, sekadar untuk menyakinkan apakah poin yang kita buat tersebut akurat;
 Catatan tersebut dapat diambil dari materi lain yang dibaca, yang dikutip dari buku atau materi yang berkaitan, seperti artikel dalam surat kabar;
 Catatan apa saja yang berkaitan dengan pokok bahasan, komentar peserta didik dalam bentuk satu atau dua kalimat terhadap pokok bahasan artikel yang ditemukan/dibaca yang berkaitan dengan materi pengajaran;
 Refleksi peserta didik terhadap materi dan kaitannya dengan kebutuhan peserta didik tersebut pada saat mengajar;
 Bagaimana guru mengajarkan materi tersebut dan dikaitkan dengan apa yang diajarkan dengan cara yang berbeda;
 Pemikiran peserta didik yang belum sepenuhnya terwujud tetapi peserta didik harus merumuskan kembali. Ini bisa meliputi perasaan peserta didik tentang materi dan perkembangan dan teori yang dikembangkan dalam pikiran peserta didik tersebut.
Setiap guru diwajibkan mengirimkan bahan (naskah) untuk Jurnal belajar, hendaknya memikirkan kembali apa saja yang telah dilakukan pada saat mengajar, dimulai dari kegiatan awal hingga kegiatan akhir. Sumber belajar apa saja yang paling banyak diakses oleh guru? Mana yang yang paling sedikit diajarkan? Dan mengapa demikian? Apakah materi tersebut sudah diketahui peserta didik-peserta didik sebelumnya? Hal-hal seperti itulah yang hendaknya dituliskan oleh peserta didik walaupun hanya satu atau dua paragrap satu minggu, kemudian dikumpulkan dan dirangkum untuk dikirimkan atau dimuat di Jurnal belajar.

Bagaimana Bentuk Jurnal belajar?
Bagaimana bentuk Jurnal belajar? Kalau kepala sekolah atau pengawas sekolah bertanya kepada peserta didik, kemungkinan ada peserta didik yang menyarankan, sebaiknya diketik menggunakan komputer akan tetapi ada juga yang menyarankan ditulis tangan saja. Tentu saja tergantung kebutuhan dan fasilitas pendukung yang tersedia. Jurnal belajar dapat diterbitkan dalam beberapa bentuk alternatif pilihan:
 Jurnal belajar bisa dalam ukuran yang kecil, sebesar block notes atau setengah ukuran kertas A4, atau sebesar kertas A4. Hal ini tergantung pada ketersediaan naskah. Kalau semua guru anggota KKG atau MGMP, begitu ada pemikiran tentang materi langsung ditulis dalam lembar kertas yang terpisah, kemudian kertas tersebut disusun dan diurutkan berdasarkan poin yang telah diajarkan, apa yang masih perlu diajarkan, pertanyaan peserta didik kepada pengajar dan lain sebagainya ditulis untuk dimuat di jurnal, maka tidak akan kekurangan naskah;
 Kemudian berdasarkan catatan kecil tadi oleh guru tersebut diuraikan kedalam tulisan (diketik atau ditulis tangan) dan ini akan menjadi catatan penting bagi penulis sebagai buku referensi setelah pembelajaran itu selesai;
 Jika lebih suka langsung menulis di laptop atau komputer, kemudian dicetak, setiap halaman dibundel/dijilid, sebagai rekaman permanen perkembangan pembelajaran dan hasil belajar peserta didik;
 Jika lebih suka membaca dari layar komputer, akan tetapi disarankan tetap membuat print outnya untuk menjaga pengelola jurnal mengalami kesulitan untuk membuka file yang dibuat oleh peserta didik pengirim naskah tersebut (terjadi gangguan sehingga tidak dapat dibaca).
Bentuk yang mana pun yang akan dipilih, yang penting bahwa hasil tulisan peserta didik tersebut setiap bulan harus dikirim lewat email ke redaksi Jurnal belajar (diharapkan).
Pemikiran Pribadi
Peserta didik bisa memasukkan hasil pemikiran pribadi ke dalam Jurnal belajar, meskipun hal itu tidak ingin kepala sekolah melihatnya, akan tetapi hal tersebut dinilai perlu untuk diketahui orang lain (di kemudian hari) atau bisa juga tidak dikirim ke redaksi jurnal, akan tetapi disimpan atau didokumentasikan sendiri.


Apakah ada Waktu untuk Menulis?
Waktu yang diperlukan untuk menulis naskah untuk Jurnal belajar tersebut, jika dilakukan oleh peserta didik atau kepala sekolah dan pengawas sekolah secara rutin, mungkin hanya satu jam per minggu. Pada awalnya mungkin bisa lebih dari satu jam (karena belum terbiasa), tetapi lama-kelamaan, asalkan dilakukan secara rutin setiap orang hanya menghabiskan waktu 1 jam per minggu untuk menulis materi yang akan dikirim ke Jurnal belajar. Jika setiap minggu menghasilkan satu halaman, maka satu bulan telah ada empat halaman yang menjadi materi Jurnal belajar. (Ag)
(Sumber : BBM kinerja BERMUTU)

Senin, 02 Agustus 2010

BERPIKIR KRITIS DAN MEMBACA KRITIS

A. Pendahuluan
1. Apa yang dimaksud berpikir kritis?
2. Apakah maksud membaca kritis?
3. Apakah kemampuan berpikir kritis dan membaca kritis diperlukan guru?
4. Bagaimana cara berpikir dan membaca secara kritis?

Untuk membahas keempat pertanyaan di atas, maka perhatikan ilustrasi berikut ini!

Dalam suatu forum (KKG/MGMP), salah seorang guru baru saja menjadi peserta seminar dan berbagi informasi mengenai suatu metode pembelajaran, misalkan metode Jigsaw. Ia menjelaskan bahwa menurut pemakalah dalam seminar tersebut, metode Jigsaw merupakan metode yang ampuh dan telah diterapkan di Eropa. Dengan menggunakan metode tersebut para siswa menjadi aktif dan kompetensi belajar siswa tercapai dengan baik. Guru tersebut menyarankan para guru menggunakannya. Untuk menguatkan sarannya, guru tersebut melampirkan langkah atau tahapan menerapkan metode Jigsaw .

Berdasarkan ilustrasi di atas, bagaimana sikap Anda yang kebetulan menjadi peserta dalam forum KKG/MGMP tersebut? Apakah menerima saran guru tersebut? Apakah langsung menolak? Apakah menunggu guru lain mencoba dan melihat hasilnya? Atau Anda akan melakukan tindakan lainnya?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dan menyikapi kasus di atas, Anda sebaiknya mempelajari keterampilan berpikir kritis dan membaca kritis.
Dalam hidup ini seseorang tidak lepas dari berpikir tetapi apakah semua yang dipikirkan dapat dikatakan kritis? Jawabannya tentu tidak. Seseorang dapat dikatakan berpikir kritis diantaranya ketika ia banyak membaca dan menyimak informasi yang berimbas pada ketajaman dalam menelaah suatu tulisan. Jadi, seorang pendidik seharusnya dapat berpikir kritis (Critical thinking) dan membaca kritis (Critical reading). Dengan berpikir kritis, kita tidak saja memahami apa yang didengar atau dilihat, tetapi juga dapat memberi penilaian dan perbaikan yang dianggap perlu. Demikian juga dengan membaca kritis, kita dapat menilai dengan membandingkan berbagai hasil bacaan dan memaparkan tulisan dengan mengacu pada pendapat yang kita anggap sesuai dengan apa yang sedang ditulis.

B. Pengertian dan Cara Berpikir Kritis
Perhatikan ilustrasi berikut ini!
Pengalaman mengajar beberapa tahun yang lalu, pembelajaran bahasa Indonesia sebagai bahasa asing tidak perlu diajarkan dengan metode diskusi.Belajar bahasa Indonesia sangatlah mudah dipelajari, cukup dengan belajar melalui buku saja.
Cobalah berpikir sejenak setelah membaca ilustrasi di atas! Anda akan menjawab”Belajar bahasa Indonesia sebagai bahasa asing tidak mungkin hanya dengan menggunakan buku saja, tetapi harus dilatih dengan cara lain, misalnya berdiskusi. Materi diskusi dapat dikaitkan dengan lingkungan keluarga. Pada pelaksanaan diskusinya antara lainterdapat kegiatan seseorang ditunjuk menyajikan apa yang ditulis oleh orang tersebut. Sebelumnya karangan yang disusunnya dibagikan kepada teman-temannya, dan kepada guru atau instrukturnya.
Ilustrasi di atas adalah kasus sederhana yang menggambarkan bahwa kajian kritis perlu dilakukan dalam menghadapi suatu masalah. Kita harus bersikap kritis terhadap data yang ada, termasuk kesimpulan yang disajikan. Sikap “kritis” diperlukan agar dapat mengambil suatu kesimpulan yang tepat dan akurat.
1. Pengertian Berpikir Kritis
Beberapa ahli mengungkapkan definisi berpikir kritis beragam tetapi ada beberapa komponen yang mengandung kesamaan. Krulik & Rudnick dalam Sumardyono dan Ashari S (2010:9) mendefinisikan berpikir kritis sebagai berpikir yang menguji, menghubungkan, dan mengevaluasi semua aspek dari situasi masalah. Termasuk di dalam berpikir kritis adalah mengelompokkan, mengorganisasikan, mengingat, dan menganalisis informasi. Sejalan dengan di atas, Norris dan Ennis dalam Alec Fisher dalam Sumardyono dan Ashari S (2010) menyatakan, berpikir kritis adalah berpikir yang beralasan dan reflektif yang fokus untuk memutuskan apa yang dapat dipercaya dan apa yang tidak dapat dipercaya.
Lebih lanjut Sumardyono dan Ashari S mendeskripsikan bahwa berpikir kritis memerlukan kemampuan membaca, memahami, dan mengidentifikasi masalah serta kemampuan mengklasifikasi dan membandingkan, sehingga dapat menggambarkan kesimpulan dengan lebih baik dari yang diberikan, serta dapat menentukan ketidakonsistenan dan kontradiksi dari informasi tersebut. Tidak semua informasi yang diterima dapat dijadikan pengetahuan yang diyakini kebenarannya untuk dijadikan panduan dalam tindakan. Demikian halnya dengan informasi yang dihasilkan, tidak selalu informasi yang benar. Keputusan atau kesimpulan yang dilakukan dengan berpikir kritis merupakan informasi terbaik setelah melalui pengkajian dari berbagai sumber informasi, termasuk mengkaji kesimpulan yang dihasilkan dengan memberikan bukti-bukti pendukung.
Berpikir kritis menurut Gega dalam Sumardyono dan Ashari S (2010:9) adalah berpikir yang menggunakan bukti-bukti untuk mengukur kebenaran kesimpulan, serta dapat menunjukkan pendapat yang terkadang kontradiktif, bahkan mau mengubah pendapatnya jika ternyata ada bukti lebih kuat yang bertentangan dengan pendapatnya. Ada dua langkah berpikir kritis, yaitu; melakukan proses penawaran yang diikuti dengan pengambilan keputusan atau pemecahan masalah.
Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa berpikir kritis adalah kegiatan berpikir yang mendalam, komprehensif, argumentatif, logis, dan evaluatif.


2. Ciri Orang Berpikir Kritis
Ciri orang berpikir kritis menurut Raymon S. Nickerson dalam Didin dalam Sumardyono dan Ashari S (2010:10) adalah sebagai berikut.
a. menggunakan bukti yang kuat dan tidak memihak;
b. dapat mengungkapkan secara ringkas dan masuk akal;
c. dapat membedakan secara logis antara simpulan yang valid dan tidak valid;
d. menggunakan penilaian, bila tidak ada bukti yang cukup untuk mendukung sebuah keputusan;
e. mampu mengantisipasi kemungkinan konsekkuensi dari suatu tindakan;
f. dapat mencari kesamaan dan analogi (kemiripan);
g. dapat belajar secara mandiri;
h. menerapkan teknik pemecahan masalah (problem solving);
i. menyadari fakta bahwa pemahaman seseorang selalu terbatas;
j. mengakui kekurangan terhadap pendapatnya sendiri.

3. Cara Berpikir Kritis
Browne Keeley dalam buku Asking the Right Questions: A Guide to Critical Thinking dalam Sumardyono dan Ashari S (2010:11) menyarankan beberapa pertanyaan yang dapat membantu dan dapat kita ikuti sebagai strategi atau cara berpikir kritis. Berikut ini ada beberapa pertanyaan yang dapat membimbing untuk berpikir kritis sehingga dapat menarik kesimpulan secara tepat.
a. Apa yang menjadi berita dan apa yang menjadi simpulannya?
b. Apa yang menjadi alasan atau argumentasinya?
c. Apa ada kata atau pertanyaan atau tindakan yang ambigu (membingungkan)?
d. Apa yang menjadi nilai yang dikemukakan?
e. Apa yang menjadi asumsi?
f. Apakah ada kesalahan dalam pemberian alasan?
g. Apakah bukti-bukti yang disajikan sudah benar?
h. Apakah ada sebab lain yang mungkin?
i. Apakah data-datanya akurat?
j. Apakah ada informasi penting yang diabaikan?
k. Apakah mungkin terdapat simpulan lain yang beralasan?

C. Pengertian dan Cara Membaca Kritis
Perhatikan pernyataan di bawah ini!
Karena diketahui hasilnya sangat efektif, maka cara memperoleh (acquiring) bahasa seperti diadopsi ke dalam pembelajaran (learning) bahasa. Munculah cara pembelajaran kontekstual, di mana materi bahasa dirakit dalam suatu konteks, dipilih sesuai dengan tingkat keseringan kemunculannya, dan dipilih berdasarkan konteks fungsional. Itulah sebabnya, pemilihan materi bahasa harus juga mendasarkan faktor sosiolinguistis dan pragmatis. Faktor sosiaolinguistis menentukan pilihan-pilihan variasi sosiolinguistis: siapa mitra bicara, dalam konteks apa berbicara, saluran apa yang dipilih, tujuan apa yang dicapai. Faktor pragmatis menentukan pilihan-pilihan variasi kebahasaan berdasarkan tingkat keresmian komunikasi.

Contoh di atas menggambarkan betapa pentingnya membaca secara kritis. Ketika si pembaca tidak mencermati dengan saksama apakah ia mampu membuat keputusan, simpulan, atau penilaian? Tentu sulit bukan? Oleh karena itu membaca kritis membutuhkan konsentrasi.
1. Pengertian Membaca Kritis
Soedarsono (1994) mengatakan bahwa membaca kritis (critical reading) adalah cara membaca dengan melihat motif penulis dan menilainya. Pembaca tidak sekedar menyerap apa yang ada, tetapi ia bersama-sama penulis berpikir tentang masalah yang dibahas. Membaca secara kritis berarti kita harus mampu membaca secara analisis dengan melakukan penilaian. Dalam membaca harus ada interaksi penulis dengan pembaca yang saling mempengaruhi sehingga terbentuk pengertian baru.

Jika kita ingin membaca dengan baik, kita harus membaca dengan pikiran yaitu berpikir, menilai, dan membuat batasan. Kesemuanya ini harus dilakukan secara serentak.

2. Tujuan Membaca Kritis
Menurut Sumardyono dan Ashari S (2010:14), secara umum tujuan membaca kritis adalah untuk:
a. Mengetahui tujuan penulis membuat tulisan;
b. Memahami bagian-bagian yang diyakinkan dan yang ditekankan oleh penulis; dan
c. Mendapatkan bagian-bagian mana penulis melakukan bias (penyimpangan dari maksud sebenarnya).

3. Langkah-langkah Membaca Kritis
Menurut Soedarsono (1994), proses membaca kritis dapat dilakukan sebagai berikut.
a. Mengerti isi bacaan yaitu; ide pokok, fakta dan detail penting, dan dapat membuat kesimpulan dan interpretasi dari ide-ide itu.
b. Menguji sumber penulis; apakah dapat dipercaya?, cukup akuratkah?, dan kompeten di bidangnya?.
c. Ada interaksi antara penulis dan pembaca; tidak hanya mengerti maksud penulis tetapi harus membandingkan dengan pengetahuan yang kita miliki, serta dari penulis lainnya.
d. Menerima atau menolak; mempercayai, mencurigai, meragukan, mempertanyakan, atau tidak percaya.

Menurut Vincent Ryan Ruggiero dalam Sumardyono dan Ashari S (2010:14), adapun langkah-langkah strategi membaca kritis sebagai berikut.
Tanyakanlah pertanyaan-pertanyaan tersebut pada diri kita sendiri.
a. Apa topiknya?
b. Kesimpulan apa yang diambil oleh pengarang tentang topik tersebut?
c. Alasan-alasan apa yang diutarakan pengarang agar dapat dipercaya?
Perhatikan alasan-alasan tidak obyektif yang dapat mengecoh pembaca, misalnya; iba, ketakutan, dan data statistik yang tidak sesuai.
d. Apakah pengarang menggunakan kata netral atau tidak?
Muhadi Sugiono dalam Sumardyono dan Ashari S (2010:15) mengatakan, untuk membantu pengembangan kemampuan membaca kritis, berikut ini pertanyan-pertanyaan yang dapat diajukan.
a. Apa yang ingin disampaikan penulis?
- Tentang apakah tulisan yang kita baca?
- Mengapa penulis ingin menulis hal itu?
b. Apa alasan penulis?
Selain mengetahui apa yang sedang dibaca, perlu juga diketahui alasan yang mendorong penulis menuliskannya dalam sebuah tulisan. Selain itu perlu juga mengatahui sudut pandang penulis melalui alasan yang dibuat atau upaya penulis untuk meyakinkan pembacanya berpikir agar pembaca percaya.Alasan tersebut dapat ditemukan dengan mudah atau sulit karena dapat terletak di awal, tengah, akhir, ataupun menyebar di berbagai tempat atau paragraf.
c. Apa ada alasan atau sudut pandang yang berbeda?
Pembaca kritis harus memulai dari keyakinan bahwa pasti ada alasan berbeda dari alasan pengarang. Semua itu untuk meyakinkan pembaca mengapa alasan tersebut tidak memadai atau bahkan salah. Tetapi terkadang tidak mengemukakan alasan alternatif, sehingga pembaca harus mencari sendiri.
d. Apakah bukti yang ditampilkan penulis?
Alasan yang kuat merupakan cara meyakinkan pembaca. Tetapi, pembaca terkadang tidak cukup diyakinkan hanya dengan alasan semata, melainkan harus dengan bukti-bukti yang mendukung alasan misalnya; pengalaman, logika, emosi, sejarah, pernyataan ahli atau pakar, dsb.
e. Apakah bukti yang ditampilkan penulis sangat mendukung?
Bukti-bukti yang ditampilkan penulis tidak selalu mendukung. Sebagai pembaca kritis, harus mencoba memahami upaya penulis untuk mendukung alasan dengan bukti-bukti yang mendukung sudut pandang obyektif, tidak langsung melalui sudut pandang kita sendiri. Misalnya; apakah bukti yang disampaikan masuk akal? Jika bukti berupa fakta, apakah bukti tersebut dapat diandalkan? Apakah sumbernya dapat dipercaya? Apakah data statistik memperkuat alasan dan mendukung bukti lain yang diajukan penulis? Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin tidak mudah untuk dijawab, bahkan pembaca kritis dituntut berpikir keras untuk melakukannya.
f. Apa pendapat kita?
Setelah semua proses di atas selesai, bagian akhir yang tidak kalah pentingnya adalah pendapat kita terhadap tulisan yang dibaca. Setelah memahami alasan penulisan dan bukti-bukti yang diajukan penulis, saatnya melihat pandangan kita. Apakah penulis berhasil meyakinkan kita dengan mengacu pada bukti-bukti. Pada awal tulisan, kita sepaham dengan gagasan penulis tetapi hingga akhir tulisan yang dibaca, kita menyimpulkan bahwa penulis tidak dapat memenuhi apa yang dijanjikannya. Sebagai pembaca kritis, tidak perlu menyesal telah membaca suatu tulisan karena tidak paham, sebab dalam membaca tulisan ada tulisan yang isinya kurang bagus dan juga cara penyajiannya juga membingungkan pembecanya.
(Sumber : BBM BERMUTU)

SK PENGURUS MGMP BERMUTU

Bagi bapak/ibu yang menghendaki mengunduh SK MGMP BERMUTU silahkan download di sini

Minggu, 25 Juli 2010

PROGRAM BERMUTU kembali hadir

Program BERMUTU MGMP IPA Wonogiri kembali akan diselenggarakan. Menurut DCT Program BERMUTU, Drs M. Irianto MEwal, Program ini diawali dengan Pelatihan DCT dan Pelatihan Guru Pemandu di Hotel Grand Wahid Salatiga. Sebanyak 14 Guru Pemandu di sanggar yang baru mendapatkan program BERMUTU dikirim untuk mengikuti pelatihan tersebut.
Berbagai persiapan pun telah dilaksanakan. Di antaranya koordinasi antara DCT, Guru Pemandu dan para ketua sanggar MGMP. (Ag)

Rabu, 02 Juni 2010

KISI-KISI ULANGAN UMUM SEMESTER GENAP 2009/2010

Kisi-kisi Ulangan Umum semester Genap(Ulangan Kenaikan Kelas) Mata Pelajaran IPA SMP dapat di download disini

Selasa, 16 Februari 2010

PENDAFTARAN PARTICIPANT TEACHER(PT) DI INTEL INDONESIA



Bp/Ibu Guru Peserta(PT) harap mendaftarkan diri sebagai PT di Intel
Indonesia dengan cara :
1. Kunjungi http://teach-indonesia.co.id
2. klik link daftar
3. Lengkapi Form Pendaftaran sebagai PT dengan nama MT masing2
4. Nama kegiatan akan muncul otomatis.
5. Pelaksana kegiatan pilih PMPTK
6. Mohon diingat ussername dan password anda, karena akan digunakan
login/masuk teach-indonesia ketika anda hendak mengirimkan tugas2.

Demikian, semoga sukses.

Sabtu, 06 Februari 2010

BEDAH SKL UN 2010


MGMP IPA SMP Rayon 12 Kabupaten Wonogiri mengadakan Bedah SKL Ujian Nasional 2010. Acara ini digelar di Aula SMPN 4 Wonogiri, Sabtu 23 Januari 2010 dengan Pembicara Tuwuh Rustantoro MPd dari LPMP Jawa Tengah.
Kegiatan ini diikuti perwakilan guru-guru IPA SMP Se-Kabupaten Wonogiri. Harapannya melalui Bedah SKL ini guru lebih mampu menyaring materi dan soa-soal yang sesuai dengan SKL UN 2010, sehingga tingkat kelulusan UN tahun ini akan meningkat. (Ag)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Lady Gaga, Salman Khan