Komunitas Belajar MGMP IPA SR 02 Wuryantoro Perkuat Literasi dan Numerasi Guru
Komunitas Belajar MGMP IPA SR 02 Wuryantoro Perkuat
Literasi dan Numerasi Guru
Eromoko, 22
Agustus 2026 — Upaya
meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru terus digelorakan melalui
kegiatan komunitas belajar. Komunitas Belajar MGMP IPA SR 02 Wuryantoro kembali
menggelar kegiatan pengembangan kompetensi guru pada Sabtu, 22 Agustus 2026,
bertempat di SMP Negeri 1 Eromoko.
Kegiatan yang berlangsung pukul 08.30–11.30
WIB tersebut diikuti oleh anggota Komunitas Belajar MGMP IPA SR 02
Wuryantoro. Suasana kegiatan berlangsung aktif dan interaktif. Para peserta
mengikuti pemaparan materi, berdiskusi, serta terlibat dalam praktik yang
berkaitan dengan penguatan literasi dan numerasi di sekolah.
Guru
Harus Terus Belajar
Kegiatan dibuka oleh Ketua
Komunitas Belajar MGMP IPA SR 02 Wuryantoro, Paryanto, S.Pd. Dalam
sambutannya, Paryanto menekankan bahwa komunitas belajar merupakan ruang
penting bagi guru untuk terus bertumbuh.
Menurutnya, guru tidak cukup hanya
mengandalkan pengalaman mengajar, tetapi perlu senantiasa memperbarui
pengetahuan, keterampilan, dan strategi pembelajaran sesuai dengan perkembangan
zaman.
“Guru perlu mengikuti komunitas
belajar sebagai salah satu upaya meningkatkan kompetensi dan kualitas
profesionalisme,” demikian pesan yang ditekankan dalam pembukaan kegiatan.
Semangat tersebut menjadi pijakan
kegiatan, bahwa peningkatan kualitas pendidikan berawal dari kemauan guru untuk
terus belajar, berbagi, dan melakukan refleksi terhadap praktik pembelajaran.
Sambutan
Kepala SMP Negeri 1 Eromoko
Selaku tuan rumah, Kepala SMP
Negeri 1 Eromoko, Susanto, S.Pd., menyampaikan ucapan selamat datang kepada
seluruh anggota komunitas belajar MGMP IPA SR 02 Wuryantoro.
Ia berharap keberadaan para guru di
SMP Negeri 1 Eromoko dapat menjadi bagian dari proses berbagi pengalaman dan
pengembangan kompetensi yang bermanfaat bagi peningkatan mutu pembelajaran.
“Selamat datang di SMP Negeri 1
Eromoko dan selamat berkegiatan,” menjadi pesan penyambutan yang mengawali
kegiatan dengan suasana hangat dan penuh kekeluargaan.
Guru
Harus Sepuluh Langkah Lebih Maju
Sementara itu, Koordinator MGMP
IPA SR 02 Wuryantoro, Dra. Siti Khumaidah Hidayati, dalam sambutannya
mengingatkan para guru agar senantiasa berada di depan perkembangan peserta
didik.
Ia menyampaikan pesan penting bahwa guru
harus sepuluh langkah lebih maju daripada murid. Pesan tersebut bukan
sekadar tuntutan untuk menguasai materi pelajaran, tetapi juga dorongan agar
guru mampu memahami perkembangan teknologi, informasi, karakter peserta didik,
serta perubahan kebutuhan pembelajaran.
Peningkatan profesionalisme,
menurutnya, harus menjadi budaya yang terus dibangun. Guru perlu terbuka
terhadap pembaruan, mau berbagi praktik baik, serta berani mengevaluasi dan
memperbaiki proses pembelajaran.
Menguatkan
Literasi dan Numerasi
Materi utama kegiatan disampaikan
oleh Sri Hartono, S.Pd., dengan tema “Peningkatan Literasi dan
Numerasi.”
Materi disampaikan secara
kontekstual dengan mengaitkan literasi dan numerasi dengan aktivitas pembelajaran
di sekolah. Peserta tidak hanya diajak memahami konsep, tetapi juga memikirkan
bagaimana penerapannya dalam pembelajaran sehari-hari.
Beberapa pokok bahasan yang dikaji
meliputi:
1.
Pengertian Literasi dan Numerasi
Literasi tidak hanya dimaknai
sebagai kemampuan membaca dan menulis. Dalam konteks pendidikan, literasi
mencakup kemampuan memahami, mengolah, mengevaluasi, dan menggunakan informasi
untuk mengambil keputusan serta menyelesaikan persoalan.
Sementara itu, numerasi merupakan
kemampuan menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk
memecahkan masalah kehidupan sehari-hari dalam berbagai konteks.
Dengan demikian, literasi dan
numerasi bukan semata-mata tanggung jawab guru bahasa atau matematika. Keduanya
merupakan kemampuan dasar yang perlu dikembangkan melalui seluruh mata
pelajaran, termasuk IPA.
2. Latar
Belakang Pentingnya Literasi dan Numerasi
Perkembangan informasi yang sangat
cepat menuntut peserta didik memiliki kemampuan memilah informasi, memahami
data, membaca situasi, serta mengambil keputusan berdasarkan bukti.
Dalam pembelajaran IPA, misalnya,
peserta didik tidak cukup hanya menghafal konsep. Mereka perlu mampu membaca
tabel dan grafik, menginterpretasikan data hasil percobaan, memahami informasi
ilmiah, membandingkan data, serta menarik kesimpulan berdasarkan bukti.
Karena itu, penguatan literasi dan
numerasi menjadi bagian penting dalam menyiapkan peserta didik menghadapi
persoalan nyata di lingkungan sekolah maupun kehidupan sehari-hari.
3. Cara
Meningkatkan Literasi dan Numerasi
Peningkatan literasi dan numerasi
dapat dilakukan melalui pembelajaran yang dekat dengan kehidupan peserta didik.
Guru dapat menghadirkan teks
informatif, artikel ilmiah populer, grafik, tabel, infografis, data lingkungan,
hasil pengamatan, maupun permasalahan kontekstual sebagai sumber belajar.
Pembelajaran juga dapat dirancang
melalui kegiatan membaca kritis, diskusi, pemecahan masalah, analisis data,
eksperimen, proyek, dan presentasi. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya
menerima informasi, tetapi belajar mengolah dan menggunakannya.
4. Praktik
Literasi dan Numerasi di Sekolah
Literasi dan numerasi perlu dibangun
menjadi budaya sekolah. Praktiknya dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan,
antara lain membaca dan memahami informasi sebelum pembelajaran, menganalisis
data hasil pengamatan, membuat kesimpulan berdasarkan bukti, membaca grafik dan
tabel, menghitung serta membandingkan data, hingga mempresentasikan hasil
pemikiran.
Dalam pembelajaran IPA, guru dapat
mengintegrasikan literasi dan numerasi melalui eksperimen. Peserta didik
membaca prosedur, mencatat hasil pengamatan, menyajikan data dalam tabel atau
grafik, melakukan perhitungan sederhana, kemudian menyusun kesimpulan
berdasarkan hasil pengamatan.
Pendekatan tersebut membuat literasi
dan numerasi menjadi bagian alami dari proses pembelajaran, bukan sekadar
kegiatan tambahan.
5. Refleksi
Pada bagian akhir, peserta diajak
melakukan refleksi terhadap praktik pembelajaran yang selama ini telah
dilaksanakan.
Refleksi menjadi penting untuk
menjawab sejumlah pertanyaan: Apakah pembelajaran yang dilakukan sudah
memberikan ruang bagi peserta didik untuk membaca secara kritis? Apakah mereka
sudah terbiasa menggunakan data? Apakah soal dan aktivitas pembelajaran telah
mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi? Serta, apa yang perlu
diperbaiki agar pembelajaran lebih bermakna?
Melalui refleksi, guru diharapkan
mampu menemukan praktik baik sekaligus mengidentifikasi bagian-bagian yang
masih perlu dikembangkan.
Dari
Komunitas untuk Pembelajaran Berkualitas
Kegiatan Komunitas Belajar MGMP IPA
SR 02 Wuryantoro di SMP Negeri 1 Eromoko menunjukkan bahwa peningkatan mutu
pendidikan tidak dapat dilepaskan dari budaya belajar para pendidiknya.
Komunitas belajar menjadi ruang strategis
bagi guru untuk berbagi pengetahuan, bertukar pengalaman, mempraktikkan
strategi pembelajaran, melakukan refleksi, dan membangun kolaborasi profesional.
Pesan yang mengemuka sepanjang
kegiatan adalah bahwa guru harus terus bergerak mengikuti perubahan. Ketika
peserta didik tumbuh di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan
teknologi, guru dituntut untuk terus memperkaya kompetensi agar mampu menjadi
pembelajar sekaligus pembimbing yang relevan.
Pertemuan di Eromoko bukan sekadar
agenda MGMP, melainkan bagian dari ikhtiar bersama untuk menghadirkan
pembelajaran yang lebih bermakna. Dari guru yang terus belajar, diharapkan
lahir peserta didik yang semakin mampu membaca dunia, memahami informasi,
mengolah data, berpikir kritis, dan memecahkan persoalan kehidupan.
Komunitas
belajar terus bergerak. Guru terus bertumbuh. Dan dari proses itulah, kualitas
pembelajaran di sekolah diharapkan semakin maju.



Komentar
Posting Komentar